Kolaborasi Unusa dan Unicef bersama Pemprov Jatim Kenalkan Beras Fortifikasi Jadi Solusi Atasi Sunting Jawa Timur
Jatimhits.id (Surabaya) – Masalah gizi atau Triple burden of malnutrisi yaitu 3 masalah gizi yang biasanya dihadapi suatu negara secara bersamaan yaitu kekurangan gizi (termasuk stunting dan wasting), kekurangan zat gizi mikro (seperti anemia), dan kelebihan gizi (obesitas) tidak hanya di hadapi di Indonesia tetapi juga sering terjadi di negara-negara berkembang dan bahkan dapat ditemukan dalam satu keluarga. Untuk mengatasi masalah tersebut perlu dilakukan modifikasi bahan pangan yang sering dikonsumsi oleh masyarakat.
Berbagai terobosan dilakukan untuk menurunkan kasus ini. Salah satunya dengan modifikasi bahan pangan yang sering dikonsumsi oleh masyarakat, seperti beras, tepung, garam dan minyak.
Oleh karena itu untuk mendukung peningkatan gizi masyarakat Unusa melakukan kolaborasi strategi dengan UNICEF dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui program Fortifikasi Pangan Berskala Besar (FPBB).
Salah satu langkah strategis yang dilakukan dalam kolaborasi tersebut, yakni peluncuran Program Fortifikasi Pangan Berskala Besar (FPBB) yang dibuka oleh Sekretaris Daerah Pemprov Jatim Ady Karyono mewakili Gubernur Jawa Timur yang digelar di ruang Nusantara, Hotel JW Marriott Surabaya, Kamis, (31/6/2025).
Program FPBB bertujuan untuk meningkatkan kualitas pangan yang dikonsumsi masyarakat dengan menambahkan zat gizi penting ke dalam bahan makanan pokok seperti tepung terigu, minyak goreng dan garam. Inisiatif ini diharapkan mampu mencegah berbagai masalah kesehatan seperti anemia, gangguan pertumbuhan anak, hingga gangguan kognitif yang disebabkan oleh kekurangan gizi.
Program Fortifikasi Pangan Berskala Besar (FPBB) yang dilakukan saat ini adalah memodifikasi bahan pangan atau yang disebut fortifikasi bahan pangan yaitu beras. Beras adalah makanan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia.

Dimana modifikasi yang dilakukan adalah mencampur atau mengoplos kernel beras dengan beras putih polos. Dimana di dalam kernel beras yang bentuknya mirip dengan butiran beras ini mengandung Zink, Vitamin A, Vitamin B1, Vitamin B3, Vitamin B6, Vitamin B9, Vitamin B12, Zat Besi.
Dimana untuk menghasilkan beras fortifikasi yang sudah memenuhi SNI 9372:2025 diperlukan campuran kernel beras sebanyak 1% dengan beras putih polos sebanyak 99%
Kandungan zat gizi dan mineral dalam Fortifikasi Beras sangat bermanfaat untuk meningkatkan nilai gizi beras yang dapat mencegah defisiensi mikronutrien, selain itu membantu memenuhi kebutuhan nutrisi terutama bagi anak-anak dan ibu hamil untuk mencegah penyakit akibat kekurangan gizi.

Menurut Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Prof. Achmad Jazidie, Unusa saat ini sangat komitmen mendukung peningkatan gizi masyarakat Indonesia. Dimana dengan melakukan program fortifikasi beras yang dilakukan saat ini sangat relevan karena beras merupakan makanan pokok masyarakat.
“Selama ini kita makan karbohidratnya banyak, gizinya sedikit. Kalau berasnya sendiri sudah mengandung vitamin dan mineral, otomatis asupan gizi jadi lebih baik,” ujarnya.
Lebih lanjut Guru Besar Teknik Elektro, khususnya dalam bidang Robotika mengatakan bahwa dengan memodifikasi bahan pangan atau yang disebut fortifikasi bahan pangan ini merupakan salah satu langkah strategis yang cepat namun efektif untuk menyelesaikan masalah gizi terutama gizi kurang maupun kekurangan zat gizi mikro.
Sejak 2021 hingga saat ini, Unusa telah menjalin kemitraan erat dengan UNICEF dan telah melakukan berbagai langkah konkret untuk mengatasi permasalahan kesehatan pada bayi hingga remaja di Jawa Timur, mulai dari stunting hingga obesitas. Pada 2024, Unusa bersama UNICEF memulai analisis situasi Fortifikasi Pangan Berskala Besar (FPBB) dan kali ini turut menggandeng Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Menurut Prof Jazidie sebagai institusi akademik, Unusa tidak hanya terlibat dalam edukasi masyarakat, tetapi juga aktif dalam penelitian, monitoring dan evaluasi, serta peninjauan kebijakan terkait fortifikasi pangan di Jawa Timur
“Sehingga program yang dirancang ini diharapkan bisa menjadi solusi efektif untuk memenuhi kebutuhan zat gizi mikro masyarakat,” ujarnya.
Ia berharap dengan edukasi yang tepat, masyarakat akan mengonsumsi beras fortifikasi secara luas tanpa harus mengubah pola makan.
“Kebiasaan tetap makan nasi bisa terus dilakukan, tapi kini dengan gizi yang cukup, lewat Beras Fortifikasi” kata Jazidie

Sementara itu Kepala Unicef Wilayah Jawa, Tubagus Ari Rukmantara menilai Jawa Timur sebagai pionirdalam penerapan fortifikasi pangan sejak puluhan tahun lalu seperti garam beryodium hingga tepung terigu, semuanya dimulai dari Jawa Timur. Efektivitasnya luar biasa dan berdampak besar karena populasinya mencapai 41 juta.
“Jawa Timur memiliki populasi lebih dari 41 juta jiwa. Jika program fortifikasi beras dijalankan secara merata, dampaknya akan sangat besar,” jelas Tubagus.
Ia juga menggarisbawahi terkait efisiensi biaya dari program fortifikasi ini, berdasarkan pengamatannya, fortifikasi beras hanya membutuhkan tambahan sekitar Rp 1.000 per kilogram,.
‘
‘Dengan biaya semurah itu namun dapat memberikan manfaat hingga 17 kali lipat dalam jangka panjang sehingga nantinya dapat menekan jumlah stunting,” ungkarnya.
Dengan pendekatan multisektor dan dukungan dari berbagai pemangku kepentingan, fortifikasi beras diharapkan menjadi langkah konkret dalam mengatasi stunting dan kekurangan gizi tidak hanya di Jawa Timur tetapi di seluruh wilayah Indonesia
Lebih lanjut, Tubagus menilai bahwa nantinya program ini bisa menjadi model nasional bahkan internasional, dan bisa memberi efek jangka panjang hingga 2045 mendatang .
Ditempat yang sama Ady Karyono Sekretaris Daerah Pemprov Jatim, Provinsi Jawa Timur berkomitmen akan meningkatkan ketahanan pangan dan perbaikan gizi masyarakat melalui program fortifikasi pangan secara luas. Dan fortifikasi beras yang menjadi langkah strategis karena beras menjadi bahan makanan pokok sebagian besar masyarakat.
“Program ketahanan pangan dan gizi masyarakat menjadi prioritas utama sesuai dokumen perencanaan pembangunan. Setelah minyak goreng, garam, dan tepung terigu, komoditas selanjutnya yang akan difortifikasi adalah beras,” ujar Adhy Karyono.
Nantinya dengan terobosan baru mencampur kernel beras dengan beras putih polos ini dapat meningkatkan gizi masyarakat.
Dengan hadirnya Beras Fortifikasi yang bermanfaat untuk meningkatkan nilai gizi beras sehingga dapat mencegah defisiensi mikronutrien, selain itu membantu memenuhi kebutuhan nutrisi terutama bagi anak-anak dan ibu hamil untuk mencegah penyakit akibat kekurangan gizi.
“Nantinya beras fortifikasi akan dimasukkan dalam program bantuan pangan bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah, sekaligus mendukung target penurunan angka stunting,” ujarnya. (Dsy)


























