Jatimhits.id (Surabaya) – Di tengah hiruk pikuk ruang pameran modern Fesyar 2026, terdengar ketukan kayu yang beradu secara teratur dan konsisten.
“Jedog… jedog… jedog…”
Suara berat itu bersumber dari benturan kayu jati kuno yang kokoh meski mulai menghitam dimakan usia. Di lantai atas, seorang perempuan lansia bernama Layem (67) duduk selonjor. Di hadapannya terpasang kemplongan , alat tenun tradisional gedog yang terbuat dari kayu jati purba berusia lebih dari satu abad. Alat itu bukan sekadar sarana kerja, melainkan saksi bisu lintasan sejarah keluarganya yang bertahan sepanjang zaman.
“Alat ini terbuat dari kayu jati asli, sudah ada sejak zaman Mbah Buyut saya,” tutur Layem dengan suara lembut namun tegas.
Jemari senjanya bergerak cekatan dan penuh penghayatan. Ia memintal kapas menjadi benang, menatanya pada sisir tenun, hingga menghentakkan balok penahan kayu dengan presisi luar biasa menyatukan helai demi helai benang hingga perlahan menjadi lembaran kain.

Untuk menghasilkan selembar kain tenun gedog, dibutuhkan proses yang panjang sekitar satu bulan. Tingkat kesulitan dan ketelatenan tinggi inilah yang membuat nilai ekonomis kain tradisional ini melambung tinggi.
“Semuanya dikerjakan secara manual, mulai dari mengumpulkan kapas, memintal menjadi helaian benang, hingga menata benang menjadi selembar kain,” ujar perempuan asal Desa Kedungrejo, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban tersebut.
Bagi Layem, mengajarkannya bukan sekedar mata pencaharian, melainkan jalan hidup yang telah dilakoninya sejak usia 15 tahun. Desa Kedungrejo sendiri sejak lama dikenal sebagai sentra tenun gedog, sehingga alunan suara alat tenun sudah menjadi irama harian hidupnya.
Kala itu, ia belajar merangkai benang dari neneknya, Mbah Takina, serta ibunya, Jumirah. Kesetiaannya pada seni tradisi ini tak pernah pudar, bahkan saat diterpa duka ketika sang suami, Raji, berpulang pada tahun 2005 silam. Ditopang semangat merawat warisan budaya sekaligus menghidupi 3 anak dan 3 cucunya, Layem terus memberdayakan hingga kini.
Kerutan di tangan Layem menjadi saksi bisu ribuan meter kain yang lahir dari ketekunannya. Di tengah arus modernisasi dan gempuran tekstil pabrikan, kehadiran sosok Layem bersama kemplongan seabadnya menjadi benteng pertahanan terakhir bagi kelestarian Tenun Gedog Tuban agar tak lekang tergerus zaman. (DSY)


























