Jatimhits.id. (Surabaya) – Di tengah upaya serius pemerintah Jawa Timur meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi potensi letusan Gunung Kelud, sebuah ironi penyerapan terjadi. Perangkat lengkap pemantau aktivitas Gunung Kelud di Blitar yang bernilai Rp 1,5 miliar dilaporkan hilang dicuri oleh pihak tidak bertanggung jawab. Hal ini tentu menimbulkan kekhawatiran serius akan terganggunya sistem peringatan dini bencana vulkanik. Kasus ini mendapat perhatian serius dari Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak.
Suami Arumi Bachsin menilai kejadian ini harus menjadi peringatan bersama tentang pentingnya menjaga perangkat mitigasi bencana. Selama ini peralatan milik Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Alat pemantau yang hilang itu sebelumnya dipasang di jalur pendakian via situs Gadungan, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar selama ini menjadi salah satu penopang sistem peringatan dini atas potensi erupsi gunung berapi.
Sehingga keberadaan alat-alat tersebut sangat krusial berfungsi sebagai “mata” dan “telinga” bagi para ahli untuk menghubungkan pergerakan tektonik dan aktivitas vulkanik. Dapat memberikan peringatan dini yang sangat penting bagi keselamatan masyarakat yang tinggal di kawasan rawan letusan.
Oleh karena itu Wagub Emil Dardak menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Timur tidak akan tinggal diam. Ia menyatakan komitmen Pemprov Jatim untuk bekerja sama erat dengan Badan Geologi dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) guna melakukan pemulihan (recovery) sesegera mungkin agar fungsi pemantauan tidak terganggu dalam jangka panjang
“Alat itu kan milik Badan Geologi. Makanya kami terus berkoordinasi baik itu dengan PVMBG, maupun Badan Geologi. Alat ini sangat penting untuk mendeteksi aktivitas gunung berapi,” kata Emil usai menerima kunjungan Dubes Selandia Baru di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Senin (15/9/2025).
Pada kesempatan ini Emil menegaskan, Pemprov Jatim akan bekerja sama dengan Badan Geologi untuk melakukan proses recovery pasca hilangnya alat tersebut.
“Kami tentu siap memberikan kerja sama terbaik dengan badan geologi. Kami optimis dan yakin bahwa badan geologi dapat segera me-revocery fungsionalitas dari pusat pos pantau tersebut,” tambahnya
Pada kesempatan ini Emil juga menekankan pentingnya peran serta masyarakat dalam menjaga aset-aset negara, khususnya yang berkaitan dengan keselamatan masyarakat. Ia menghimbau seluruh warga untuk lebih peduli dan berpartisipasi aktif dalam menjaga alat-alat pendeteksi bencana, karena manfaatnya secara langsung kembali kepada keselamatan mereka sendiri.
Informasi mengenai raibnya peralatan pemantau Gunung Kelud pertama kali disampaikan Badan Geologi melalui akun Instagram resminya, @badan.geolog pada Selasa 8 September 2025. Dalam unggahan tersebut, terlihat sejumlah foto kondisi pos pantau usai peralatan dibobol.

Perangkat yang hilang ini meliputi berbagai komponen krusial, di antaranya GNSS Leica GR30, seismik broadband Certimus, kabel grounding, penangkal petir, kabel solar panel, enam unit accu Panasonic LC-P1275NA, serta perangkat jaringan switch hub Moxa.

Kehilangan perangkat ini bukan sekadar kerugian materiil. Terlebih lagi, kejadian ini berpotensi besar mengganggu sistem mitigasi bencana di wilayah rawan letusan. Gunung Kelud yang terkenal dengan riwayat letusannya yang dahsyat, memerlukan pemantauan 24 jam untuk memastikan keamanan puluhan ribu penduduk yang tinggal di lereng dan sekitarnya. Tanpa alat-alat ini, upaya deteksi dini menjadi terhambat, menambah panjang daftar tantangan dalam menghadapi potensi bencana alam di Jawa Timur. (Dsy)

























