Jatimhits.id ( Surabaya) – Siap wujudkan kampus berdampak dan berdaya saing global, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menggelar sarasehan bertajuk Dari Lokal ke Global: Membangun Ekosistem Riset dan Interdisipliner yang Berdampak.
Tidak tanggung jawab, kegiatan
yang diikuti oleh sivitas akademika ITS ini langsung menghadirkan seorang ilmuwan influencer Dr Bagus Putra Muljadi. Kegiatan ini digelar di Auditorium Tower 2 ITS, Jumat (23/1/2026).

Menurut Rektor ITS Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MSc Eng PhD, sarasehan ini dilatarbelakangi oleh fase transisi krusial ITS selama 20 tahun mendatang. Dimana selama fase tersebut dikeluarkan beberapa target, seperti penyediaan kebijakan publik, peningkatan sitasi per fakultas bereputasi internasional, dan kolaborasi International Co-authorship.
Selain itu, fase ini juga memiliki tantangan yang harus diselesaikan meliputi Revolusi Industri 4.0, transformasi digital, dan perubahan iklim.
Lebih lanjut Bambang menjelaskan lebih detail bahwa berangkat dari permasalahan tersebut, ITS menetapkan lima bidang penelitian unggulan sebagai solusi peningkatan kualitas kampus yang berdampak.
Dimana bidang penelitian tersebut meliputi Mobilitas Cerdas dan Berkelanjutan, Teknologi Kelautan, Energi Terbarukan, AI dan Robotika, dan Ekonomi Biru.
“Hal ini ditujukan untuk menjadi motor penggerak penelitian sekaligus membuka peluang interaksi dengan berbagai institusi,” ujar Guru Besar Departemen Teknik Mesin ITS tersebut.
Sejalan dengan yang disampaikan Rektor ITS, Bagus Muljadi yang juga merupakan Asisten Profesor Teknik Kimia dan Lingkungan dari University of Nottingham, Inggris memaparkan materi mengenai pentingnya membangun kompetensi lingkungan interdisipliner, baik antar peneliti maupun akademisi.
Menurutnya, kolaborasi lintas disiplin menjadi kunci utama dalam menjawab tantangan global yang semakin kompleks.
Pada kesempatan ini Bagus memberikan contoh melalui bencana yang terjadi di Pulau Sumatera, belum lama ini, yang dapat diselesaikan dengan ilmu interdisipliner.
Berbagai jurusan dapat berperan masing-masing, seperti Teknik Lingkungan yang menjadi pemrakarsa pengelolaan dampak bencana dan Matematika sebagai perumus peluang rentang lama bencana.
“Dengan sinergitas inilah yang menjadikan suatu instansi perguruan tinggi memiliki transformasi penelitian menuju solusi dampak global,” papar alumnus ITB.
Lebih lanjut Peneliti sekaligus salah satu influencer kenamaan di Indonesia menjelaskan bahwa saat ini tidak bisa dihindari dampak global semakin meningkat membuat banyaknya keputusan trilema.
Dimana trilema merupakan situasi pilihan sulit antara tiga opsi, yang mana hanya dua opsi yang dapat dicapai secara optimal pada satu waktu.
Peneliti sekaligus influencer kenamaan ini menjelaskan bahwa trilema merupakan situasi pilihan sulit antara tiga opsi, yang mana hanya dua opsi yang dapat dicapai secara optimal pada satu waktu.
Khusus pengelolaan energi global, trilema yang bisa digunakan, yaitu peningkatan pemulihan minyak dan gas, pengelolaan dan perlindungan sumber daya udara, serta produksi hidrokarbon alternatif yang efektif.
Ia berharap kedepannya ITS bisa selalu mendorong ekosistem ekosistemnya agar lintas disiplin ilmu semakin kolaboratif, inovatif, dan adaptif. (Dsy)


























