Jatimhits.id. (Surabaya) – Keikutsertaan UMKM binaan Bank Indonesia (BI) dalam ajang pameran bisnis Fesyar Jawa 2026 kembali memberikan angin segar bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.
Pameran yang berlangsung di Grancity Surabaya mulai Jumat-Minggu 25-27 September 2026 menjadi wadah strategi bagi para pengrajin lokal untuk memperkenalkan produk-produk unggulan mereka ke pasar yang lebih luas.
Salah satu peserta yang menarik perhatian pengunjung adalah kelompok Sub Sistem UMKM asal Bangkalan, Madura. Kelompok ini menaungi tiga lini usaha kerajinan, yakni kerajinan daun agel yaitu produk olahan kerajinan berbahan dasar serat daun palem agel, seperti aneka tas rajut dan keranjang estetik yang telah diproduksi sejak tahun 2008, Kan Po ecoprint yaitu produk kerajinan ecoprint dengan teknik pewarnaan alami serta konveksi ceria yang membuat berbagai baju yang menggunakan bahan dari ecoprint.
Muhammad Riswanda Himawan
perwakilan divisi pemasaran dari UMKM “Daun Agel”, mengungkapkan rasa terima kasihnya dapat berpartisipasi dalam pameran yang difasilitasi oleh Bank Indonesia (BI).
“Perasaannya tentu sangat senang dan bahagia karena bisa berjualan di luar kota. Melalui pameran ini, kami bisa mempromosikan produk secara langsung ke masyarakat luas dan membuka peluang kerja sama, baik untuk skema B2B (Business to Business) maupun B2C (Business to Consumer),” ujar Riswanda saat diwawancarai di booth pameran.
Keikutsertaan kali ini merupakan ketiga kalinya bagi kelompok UMKM tersebut dalam ajang FESyar yang digagas Bank Indonesia ini. Secara keseluruhan, hasil penjualan dan respon pasar tergolong imbang (keseimbangan) serta memberikan dampak positif terhadap perkembangan usaha mereka.
Pemberdayaan Masyarakat Lokal
Menurut Riswanda, usaha kerajinan berbasis serat daun palem (daun agel) ini telah berdiri sejak tahun 2008 dan mulai menjadi binaan Bank Indonesia bersama Napak Tilas Indonesia sekitar tahun 2017–2018. Sementara itu, sub-sistem kelompok dibentuk pasca-pandemi melalui proses seleksi dan survei potensi wilayah.
Melalui pendampingan berkelanjutan, para pengrajin tidak hanya mengajarkan teknik produksi, tetapi juga manajemen bisnis modern, mulai dari pencatatan keuangan, penentuan Harga Pokok Penjualan (HPP), hingga strategi pemasaran dan legalitas usaha.
“Saat ini total ada sekitar 60 orang pengrajin yang terlibat dalam kelompok ini. Untuk produk daun agel sendiri memberdayakan sekitar 30 orang yang didominasi oleh ibu-ibu rumah tangga di Bangkalan,” tambah Riswanda.
Sehingga dengan adanya pelatihan dan pendampingan ini, UMKM lokal pulau Madura diharapkan dapat terus berkembang secara mandiri, meningkatkan perekonomian warga sekitar, serta mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
“Total ada sekitar 60 orang pengrajin yang terlibat dalam kelompok ini. Untuk produk daun agel sendiri memberdayakan sekitar 30 orang yang didominasi oleh ibu-ibu rumah tangga di Bangkalan,” tambah Riswanda.
Lebih lanjut Riawanda mengatakan bahwa produk daun agel sudah pernah melakukan Ekspor ke Amerika latin, US, eropa, Jepang Malaysia, Singapura, Thailand, dan India. Ditengah perkembangan jaman dan untuk memudahkan pemasaran, saat ini semua produk bisa di lihat di web Daunagel.com
Dengan adanya pelatihan dan pendampingan ini, UMKM lokal dari Pulau Madura ini serta keikutsertaan pada berbagai ajang pameran baik dalam dan luar negeri dapat terus mendorong UMKM daerah berkembang secara mandiri secara ekonomi sehingga dapat meningkatkan perekonomian warga sekitar, serta mampu naik kelas dan bersaing di tingkat nasional maupun internasional. (DSY)


























