Jatimhits.is ( Surabaya) – Di tengah gempuran gaya hidup digital dan modernisasi yang serba cepat, pemandangan berbeda tampak di salah satu sudut Tempat Pemakaman Umum (TPU) di Surabaya sepekan menjelang Ramadhan 2026.
Aroma wangi bunga setaman mulai menyeruak di sepanjang gerbang Tempat Pemakaman Umum (TPU) di salah satunya TPU Asem jajar Surabaya sepekan menjelang Ramadhan 2026.
Ribuan masyarakat tumpah ruah membawa air mawar dan keranjang bunga, menjaga sebuah tradisi yang telah mengakar kuat dalam denyut nadi budaya Indonesia: “Nyekar”
Ribuan orang masih setia bersimpuh di samping pusara, memimpin kepala dalam doa, sambil jemari mereka perlahan membersihkan nisan yang berdebu. Inilah potret Nyekar, sebuah tradisi “kirim doa” yang membuktikan bahwa bakti kepada leluhur tidak mengenal batas zaman.
Bakti yang Tak Terhalang Teknologi
Bagi sebagian besar masyarakat, mengunjungi makam orang tua dan leluhur sebelum puasa adalah kewajiban moral.
Aris (32), salah satu pekerja di sektor teknologi di Malang, mengatakan bahwa nyekar adalah momen “pulang” yang paling hakiki. Meski kini ziarah bisa dilakukan secara virtual atau melalui jasa titip doa, Aris memilih untuk hadir secara fisik.
”Teknologi bisa memudahkan komunikasi, tapi tidak bisa menggantikan sentuhan tangan saat menyiram air mawar ke makam Ayah,” ujarnya.
Hal yang sama juga dikatakan Siti (45) yang datang ke makam keluarga bersama sanak saudaranya.
“Ada rasa yang hilang jika tidak datang ke sini sebelum Ramadhan. Mumpung hari libur juga bisa berangkat bersama keluarga,” ujar wanita yang sehari hari tinggal di gresik
Tradisi ini melintasi batas generasi, di mana anak muda hingga lansia terlihat bersama-sama membersihkan nisan dan menaburkan bunga. Fenomena ini menunjukkan bahwa nilai-nilai spiritualitas masyarakat tetap terjaga meski berada di tengah gempuran modernitas.
Menghidupkan Rezeki di Pintu Makam
Dibalik nisan-nisan bisu itu, dan keteguhan masyarakat dalam menjaga bakti, geliat ekonomi justru sedang kencang-kencangnya bersuara. Tradisi nyekar bukan sekadar ritual, melainkan katup penyelamat bagi ekonomi kerakyatan di sekitar area pemakaman.
Di sekitar area pemakaman, roda ekonomi bergerak terlihat jauh lebih cepat dari hari biasanya. Salah satunya Tutik (70) padagang bunga dadakan di depan pintu makam.

“Seminggu menjelang Ramadhan tahun ini sudah mulai ramai, mungkin banyak hari libur. Jadi mereka tidak datang ‘ grudukan’ pas sore hari menjelang puasa,” ujar wanita yang sudah berjualan bunga sejak tahun 1984
Meski harga kulakan bunga seperti mawar, kenanga, gading dan melati mahal. Ia tidak bisa menaikkan harga jual ke pembeli. Ia hanya mematok 2 harga yaitu Rp 5000 dan Rp 10.000 per kresek yang berisi bunga mawar kenanga, pacar banyu dan potongan daun pandan.

” Kulakan bunganya mahal tapi tidak bisa jual mahal. Saya jualnya 5000 dan 10.000 rupiah per kresek. Disyukuri aja mbak. Alhamdulillah ada kenaikan omset sekitar 200-300% dibandingkan jualan di hari biasa,” ujar wanita asli Surabaya
Selain penjual bunga dadakan yang mendapatkan berkah rejeki, terlihat para remaja hingga warga sekitar juga mendapatkan penghasilan tambahan dengan menawarkan jasa membersihkan makam, mencabut rumput dan mengecat ulang nisan.
Tidak ketinggalan sektor parkir dan kuliner juga mendapatkan berkah, terlihat lahan parkir yang penuh sesak hingga pedagang makanan kaki lima di sekitar TPU turut serta kecipratan berkah dari terjadinya peziarah.
”Nyekar adalah momen di mana doa dari peziarah bertemu dengan rezeki bagi kami. Ini adalah subsidi silang budaya yang sangat nyata,” ungkap Pak Rohman, salah satu warga yang menjadi juru parkir dadakan.
Jadi nyekar adalah bukti nyata bagaimana tradisi menjaga keberlangsungan hidup. Bakti para peziarah kepada mereka yang telah tiada, secara tidak langsung memberi penghidupan bagi mereka yang masih berjuang di dunia.
Nyekar adalah wujud nyata dari ekonomi gotong royong yang berbasis budaya. Selama bakti kepada orang tua tetap dijunjung tinggi, maka rezeki bagi para pedagang kecil di sekitar makam akan terus mengalir.
Di era modern ini, nyekar tetap kokoh bukan hanya sebagai ritual keagamaan, tetapi sebagai pengingat bahwa akar budaya yang kuat adalah fondasi yang mampu menggerakkan roda ekonomi yang paling jujurdan menyentuh hati. (Dsy)


























