Jatimhits.id (Bandung) – Bank Indonesia (BI) secara aktif terus memperluas ekosistem QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) ke kancah internasional (lintas batas) untuk mempermudah transaksi warga negara Indonesia di luar negeri, sekaligus meningkatkan posisi QRIS sebagai standar pembayaran digital global. Bahkan di tahun 2026 dengan target 17 miliar transaksi, hadir di 8 negara, 45 juta pedagang dan 60 juta pengguna. 45 juta pedagang, terutama UMKM dan 60 juta pengguna
Hal ini disampaikan Ekonom Senior Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Willy Togi, saat menjadi narasumber dalam forum “Capacity Building Media Jawa Timur 2026” bersama awak media di Bandung, Sabtu (14/2/2026).
“Ini sesuai dengan tema QRIS tahun ini yakni Kemerdekaan 17-8-45.17 miliar transaksinya, hadir di 8 negara dan 45 juta merchant,” ujar nya
Lebih lanjut Willy mengatakan bahwa 2026 ini Bi fokus melakukan penguatan inovasi dan internasionalisasi. Dan ke depannya pengembangan QRIS sepenuhnya mengacu pada Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2030.
Untuk mencapai target 17 miliar transaksi, BI terus mendorong inovasi berbasis kebutuhan masyarakat. Sehingga nantinya QRIS tidak lagi diposisikan sekedar alat bayar, tetapi sebagai ekosistem ekonomi digital yang lebih luas.Berdasarkan data dari BI dari tahun 2019 ada 1,6 juga pengguna dan sekarang 2025 ada 4,3 juta pengguna dengan Rp 15,51 miliar. Hal ini menunjukkan bahwa QRIS semakin menjadi pilihan utama masyarakat dalam bertransaksi.
Selain BI terus melakukan pengembangan QRIS ke seluruh Indonesia, BI juga melakukan ekspansi Qris Internasional atau QRIS Antarnegara (Cross-Border). Setelah sukses di Thailand, Malaysia, Singapura, dan Jepang. tahun 2026 ini BI akan memperluas konektivitas QRIS ke China dan Korea Selatan (target Q1-2026), serta India dan Arab Saudi.
Willy menjelaskan bahwa dengan hadirnya QRIS Antarnegara dapat memperluas jumlah negara mitra sehingga dapat membuka potensi transaksi wisata dan perdagangan. Sehingga penerimaan QRIS antarnegara juga bisa menumbuhkan ekspotensial.
“Masyarakat Indonesia maupun mancanegara juga sudah mulai muncul kepercayaannya. Kepercayaan ini menjadi modal utama untuk menambah mitra negara pada tahun 2026,” kata Willy lebih lanjut.
Dalam konteks internasional, BI tidak hanya mengejar jumlah negara, tetapi juga memastikan kesiapan infrastruktur. Dimana skema kerjasama QRIS Antarnegara ini adalah transaksi qris cross Border menawarkan biaya yang lebih efisien dibandingkan metode lainnya seperti kartu kredit, penarikan tunai dan lainnya. Kedua, penyelesaian qris melintasi batas pembayaran yang menggunakan skema Local Currency Transaction (LCT) atau berdasarkan perjanjian antar bank sentral. Interkoneksi ketiga antar switching kedua negara untuk memproses transaksi QR cross Border dan settlement melalui Bank ACCD. Sehingga Pendekatan ini membuat transaksi lebih efisien dan kompetitif dibandingkan sistem pembayaran yang telah ada, yang harus melalui pihak ketiga.
“Kehadiran QRIS Antarnegara bukan menjadi saingan bagi penyedia pembayaran lainya, namun kehadiran QRIS Antarnegara menyediakan alternatif lain bagi masyarakat,” jelas Willy mengenai mekanisme LCT.
Lebih lanjut Willy menjelaskan bahwa kehadiran QRIS Antarnegara ini bisa di konversi langsung antar mata uang lokal, biaya transaksi bisa ditekan sehingga lebih menarik bagi pengguna dan merchant.
Ia juga menegaskan bahwa ekspansi internasional bukan sekedar simbolik. Di delapan negara terkait, pelaku UMKM, yang 95 persen dari total pedagang berpeluang menerima pembayaran dari turis asing secara langsung.
Sehingga dengan adanya ekspansi internasional ini UMKM tidak lagi terbatas pada transaksi tunai atau domestik, tetapi dapat terhubung dengan pasar global melalui satu standar QR.
Sementara dari sisi domestik, keberhasilan 43 juta merchant yang telah terstandarisasi menjadi fondasi kuat menuju target 45 juta. Pada kesempatan ini Willy optimis karena seluruh merchant QRIS sudah menggunakan standar nasional yang seragam. Standarisasi inilah yang memudahkan perluasannya, baik di dalam maupun luar negeri.
QRIS memang dirancang agar murah dan sederhana, sehingga bisa memfasilitasi pembayaran digital. Kemudahan inilah yang membuat penetrasi ke usaha mikro berjalan cepat.
Oleh karena itu untuk menjaga pertumbuhan transaksi hingga 17 miliar, BI terus mendorong inovasi berbasis kebutuhan masyarakat. QRIS tidak lagi diposisikan sekadar alat pembayaran, tetapi sebagai ekosistem ekonomi digital yang lebih luas.
Bahkan berbagai inovasi juga dilakukan BI untuk meningkatkan penggunaan, salah satunya di tahun 2026 ini BI menyiapkan program “QRIS Jelajah Kuliner Indonesia.” Program ini akan mengangkat merchant-merchant unggulan dalam konsep “QRIS Star.” Melalui pendekatan ini, BI ingin mendorong merchant tidak hanya menerima pembayaran digital, tetapi juga meningkatkan daya saing dan kualitas layanan.

Selain fokus pada antar negara. BI saat ini juga tengah fokus menghadirkan inovasi QRIS Tap. Dimana QRIS Tap sendiri merupakan transaksi yang mempermudah melakukan scan dengan NFC tanpa Scan kamera.
Apalagi saat ini Qris tidak hanya berlaku di sektor ritel tetapi juga transportasi. 25 Provinsi sudah melakukan model pembayaran menggunakan QRIS Tap.
Oleh karena itu pada kesempatan ini Willy berharap target 17 miliar transaksi, 45 juta merchant, 60 juta pengguna, dan 8 negara mitra bukan hanya angka statistik karena pencapaian tersebut menjadi tidak memperkuat sistem pembayaran nasional yang “cepat, mudah, murah, aman, dan Andal.
“Dengan edukasi strategi masif, kampanye tematik, penguatan standar, perluasan lintas negara, dan dukungan media, Bank Indonesia menargetkan tahun 2026 sebagai tahun implementasi QRIS. Saya optimis target besar itu, hanya dapat tercapai melalui kolaborasi dan kepercayaan,” tutupnya. (Dsy)


























