Jatimhits.id (Surabaya) – Gelaran East Java Investment Forum (EJIF) 2026 yang dihadiri Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur baru-baru ini berhasil mencatat komitmen investasi sebesar Rp2,4 triliun. Capaian ini menjadi sinyal positif bagi penguatan iklim investasi dan perekonomian Jawa Timur pada tahun 2026.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur Ibrahim mengatakan investasi yang masuk harus memberikan dampak nyata terhadap perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, keberhasilan investasi tidak hanya diukur dari nilai investasi, tetapi juga kemampuannya menciptakan lapangan kerja, mengurangi kemiskinan dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif serta berkelanjutan.
“Investasi itu ada value-nya. Kemiskinan bisa dikurangi, kesempatan kerja meningkat, dan hasil kesejahteraan masyarakat akan semakin baik,” ujar Ibrahim, dalam keterangan tertulis seperti dikutip Minggu (4/10/2026).
Ibrahim menilai Jawa Timur memiliki fondasi ekonomi yang mendukung pengembangan investasi. Pertumbuhan ekonomi Jawa dan Jawa Timur menunjukkan tren positif, sementara inflasi Jawa Timur tercatat 3,33 persen. Sektor industri manufaktur juga menunjukkan kinerja positif.
“Kenapa harus di Jawa Timur? Kita lihat ekonominya, inflasi terkendali. Potensi pertumbuhan Jawa dan Jawa Timur trennya tetap baik,” tandasnya.
Ia menambahkan, dukungan pemerintah daerah penting untuk menciptakan multiplier effect investasi sehingga pertumbuhan ekonomi Jawa Timur dapat terus berlangsung secara inklusif dan berkelanjutan.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan pencapaian tersebut menjadi momentum untuk memperkuat ekosistem investasi agar semakin kompetitif dan memberikan dampak luas terhadap perekonomian serta kesejahteraan masyarakat.
“Semoga dari list project yang ditawarkan bisa menjadi investasi yang konkret. Alhamdulillah Rp2,4 triliun investasi tercatat di EJIF pada hari ini,” ujar Emil.
Menurut Emil, pencapaian tersebut merupakan hasil kolaborasi lintas sektor dalam membangun iklim usaha yang kondusif di Jawa Timur.
“Ini adalah hasil perjuangan kolektif seluruh elemen lintas sektor untuk mendorong ekosistem perekonomian dan investasi yang inklusif dan berkelanjutan,” terangnya.
Emil menegaskan Jawa Timur tidak ingin hanya menjadi tujuan investasi, tetapi juga membangun ekosistem yang memungkinkan investasi berkembang dan menghasilkan nilai tambah bagi perekonomian daerah.
“Jawa Timur jadi penyumbang terbesar perekonomian Indonesia. Ini adalah perekonomian regional dengan angka perputaran ekonomi yang stabil,” tandasnya.
Emil mengungkapkan Jawa Timur memiliki potensi investasi yang tersebar di berbagai wilayah. Potensi tersebut didukung infrastruktur seperti bandara dan pelabuhan, serta keberadaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), kawasan industri, kawasan industri halal dan rencana pengembangan kawasan industri baru.
“Potensi Jawa Timur tersebar di seluruh penjuru. Tidak semuanya ramai. Peluangnya ada, dan ini menciptakan peluang investasi,” kata Emil.
Emil berharap komitmen investasi sebesar Rp2,4 triliun dalam EJIF 2026 dapat segera direalisasikan menjadi kegiatan ekonomi yang memberikan dampak nyata. Ia juga mengajak seluruh instansi dan pemangku kepentingan memperkuat kolaborasi dalam menjaga iklim investasi Jawa Timur.


























