Jatimhits.id (Surabaya) – Nasib tragis dialami Thomas Julianus Kristianto (19), remaja yang baru menyelesaikan pendidikan tingkat SMA ini harus meregang nyawa setelah 3 hari menjalani perawatan intensif di RS Dr Soetomo Surabaya akibat dikeroyok 4 orang remaja yang di duga adik kelasnya di SMAN 11 Surabaya.
Korban diketahui merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. Sejak kecil, telah kehilangan kedua orang tuanya dan diasuh oleh tante serta kakek-neneknya ini mengalami luka yang cukup parah dan gegar otak dan sempat koma selama 3 hari.
Hal ini disampaikan kakek korban Margono (88), yang selama ini merawat dan membesarkan Thomas sejak ibunya meninggal dan ayah pergi meninggalkan Thomas
Kesedihan mendalam dirasakan sang kakek saat mengenang malam terakhir sebelum cucunya pergi untuk selamanya. Saat itu, Thomas hanya berpamitan untuk keluar sebentar bersama seorang temannya.
“Pamitannya ke saya mau keluar sebentar. Keluar itu kok enggak pulang-pulang. Tahu-tahu teman ke sini (mengabarkan) Thomas ada di dokter Danu (klinik di daerah Manukan),” ujar Margono saat ditemui di rumah duka, Kamis (4/06/2026)
Karena kondisi sudah kritis dan peralatan tidak lengkap akhirnya Thomas dirujuk ke RS Sutomo.
“Sudah enggak sadar, darahnya keluar dari kepalanya.,” ungkap Margono dengan nada sedih.
Namun takdir berkata lain setelah dioperasi, korban meninggal sekitar pukul 05.00 WIB.
Sementara itu Hana Novia Kristiani (32), kakak kandung korban meyakini adiknya dikeroyok.
“Kalau misalnya hanya satu atau dua orang, saya anggap tidak dikeroyok. Tapi jika orangnya lebih dari dua orang, saya anggap itu adalah sebuah pengeroyokan dan motifnya mungkin bisa dikatakan berencana,” ujarnya saat ditemui awak media di rumah duka kawasan Jalan Manukan Yoso II, Manukan Kulon, Tandes, Surabaya.
Mengenai dugaan motif pengeroyokan terhadap sang adik, Hana mengaku belum mengetahui secara detail motif utama para pelaku tak terduga. Namun, dia memastikan tidak ada masalah utangnya.
Hana lalu mengurai kemungkinan penyebab pengeroyokan itu yang diawali pada pertengahan Mei 2026 saat sang adik terlibat permasalahan dengan temannya yang diduga kuat merupakan salah satu pelaku pengeroyokan yang tidak terduga.
Permasalahan tersebut perihal ganti rugi sandal milik pelaku tak terduga yang sudah dipakai oleh korban.
Namun permasalahan tersebut, dianggap sudah selesai karena sang adik sudah memberi ganti rugi berupa sandal yang baru.
“Kan pada saat itu juga saya sudah beritikad baik untuk mengganti dan mengembalikan dengan sandal baru tapi mungkin dari pihak tersangkanya tidak sesuai dengan keinginannya karena merasa bahwa harganya tidak sesuai dengan harga yang sandal yang baru,” ungkapnya.
Sehingga, Hana merasakan permasalahan mengenai sandal itu dianggapnya berlebihan jika menjadi motif utama yang mendasarinya secara tak terduga pelaku berencana melakukan pengeroyokan terhadap korban.
Keluarga Thomas pun akhirnya melaporkan kasus pengeroyokan ini ke Polrestabes.
Sementara itu di hubungi secara terpisah Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Edy Harwiyato membenarkan bahwa adanya kasus pengeroyokan yang dilakukan 4 orang remaja yang mengakibatkan korban Thomas mengalami luka parah dan telah meninggal dunia.
“IniSaat 4 pelaku pengeroyokan sudah ditangkap dan sekarang sedang menjalani pemeriksaan di Unit Resmob,” ujar Edy Harwiyato
Usai di otopsi di RS Bhayangkara, jenasah korban sudah dimakamkan di pemakaman umum babat jerawat pukul 9.00 WIB . (Dsy)

























