Jatimhits.id (Surabaya) – Akhirnya Pendiri Bani Insan Peduli (BIP), Ali Zainal Abidin melakukan klarifikasi terkait viral nya tuduhan melakukan “prank” membatalkan donasi atau dana bantuan senilai Rp 2 miliar yang diberikan kepada Pemilik Griya Lansia Husnul Khotimah Malang.
Awalnya Pendiri Yayasan Bani Insan Peduli (BIP), Ali Zainal Abidin tidak peduli dengan unggahan pemilik sekaligus pendiri Yayasan Griya Lansia Husnul Khatimah Malang, Arief Rakhman Hakim atau yang lebih dikenal dengan nama Arief Camra di media sosial yang menuliskan bahwa bantuan BIP sebesar Rp 2 Milir dianggap “prank” karena BIP menarik kembalinya.
Bahkan permasalahan tersebut menjadi viral dan menjadi perhatian luas masyarakat. Video dan unggahan yang tersebar di berbagai platform media sosial memperoleh ribuan tanda suka dan komentar, sehingga memunculkan beragam persepsi di tengah publik mengenai penyebab batalnya komitmen bantuan yang sebelumnya telah diumumkan.
Diakui Ali sejak polemik menyebutkan dirinya sengaja memilih diam. Bahkan, ia mengaku tidak pernah membuka berbagai video maupun unggahan yang beredar di media sosial karena tidak ingin larut dalam polemik.
Pengusaha asal Pamekasan itu mengutip sejumlah kisah keteladanan yang pernah menerima Rasulullah SAW yang menurutnya mengajarkan umat Islam untuk membalas keburukan dengan doa dan kebaikan, bukan permusuhan.
Bahkan ia tidak pernah mengajak relawan membalas, justru ia menghitung seluruh relawan BIP agar tidak memperpanjang polemik di media sosial. Tetap sabar dan tidak menyerang Arief Camra
Pada kesempatan ini saya hanya ingin menyampaikan apa adanya. Sehingga tidak memperkeruh keadaan,” kata Bang Ali Panggilan Akrabnya kepada awak media di Surabaya, Minggu (12/7/2026).

Menurut Ali keputusannya memaparkan klarifikasi ini sebagai bentuk tanggung jawab kepada para relawan BIP yang selama ini sudah bekerja keras menjalankan berbagai kegiatan sosial yang dilakukan BIP di berbagai wilayah.
Pada kesempatan ini ia menegaskan bahwa BIP tidak ada komunikasi sepihak dari BIP untuk menghentikan bantuan atauatau membatalkan bantuan yang telah direncanakan sejak rangkaian BIP Tour D’Jatim beberapa bulan lalu.
“Selama ini tidak ada satupun komunikasi dari kami untuk membatalkan bantuan yang sudah diberikan. Namun, dari pihak Griya Lansia sendiri yang meminta bantuan tersebut dibatalkan karena menganggap ada ketidaksesuaian SOP (Standar Operasional Prosedur). Ada bukti chat juga,” jelasnya.
Lebih lanjut Ali menceritakan awal kunjungan Griya Lansia merupakan rangkaian tur Baksos BIP di beberapa wilayah di Jawa Timur. Setelah bertemu Arief Camra saat di Griya lansia, BIP memberikan bantuan berupa sapi, sembako, kursi roda, selimut, sajadah, mukena, sarung, dan memberikan uang kepada karyawan . Selanjutkan bantuan lainnya seperti Pampers dan kebutuhan lansia lainnya akan diberikan secara bertahap.
Namun di tengah pertemuan tersebut Arief Camra pemilik Griya lansia memberikan usulan bangun masjid, kebutuhan lansia, kesejahteraan para pegawai termasuk para perawat. Termasuk usulan tentang Panti Asuhan Anak Yatim milik Arief Camra di Sidoarjo.
Karena yang disepakati Griya Lansia dulu, maka Ali menyepakati sebesar Rp 2 Miliar yang akan diberikan secara bertahap untuk kesejahteraan dan pembangunan Masjid di Griya Lansia. Tahap pertama disalurkan Rp 250 juta.
Diakui Ali, bantuan yang di berikan yayasan BIP ini merupakan murni dari laba perusahaannya sekaligus menjalankan amanat orang tua terutama ibu yang bernama. Bani. Oleh karena itu lahirlah yayasan BIP (Bani Insan Peduli) sebagai bentuk bakti saya sebagai anak kepada ibu. Dan setiap bantuannya ia selalu membawa nama ibunya Bani.
Sebelumnya BIP juga sudah melakukan baksos ke tempat Influence yang menangani ODGJ yang juga anggota Polisi di Mojokerto yang lebih dikenal dengan panggilan Pak Purnomo. Berrupa memberikan bahan-bahan keperluan mereka, termasuk pembangunan Masjid dan Ambulan yang kebetulan Pak Purnomo meminta izin nama yang mungkin bisa dilampirkan. Makan nama masjid tersebut ada unsur nama BANI.
“Hal ini mungkin dianggap Griya Lansia tidak sesuai SOP. Saya tidak pernah memaksa menggunakan nama Bani, selalu saya sampaikan atau tawarkan dulu, kalau berkenan. Kalau tidak berkenan ya tidak apa-apa tanda saya mengurangi atau menolak bantuan,” ucapnya
Tidak ada angin atau badai tiba-tiba Arief Camra pengelola yayasan meminta no rekening yayasan BIP. Ali pun kaget, ia menanyakan alasan meminta no rekening BIP, tapi tidak ada penjelasan dari Arief Camra.
“Tidak ada angin tidak ada hujan minta nomor rekening. Ini yang jadi pertanyaan kami,” jelasnya.
Ali tidak keberatan jika pihak Griya Lansia mengembalikan uang yang diberikan BIP. Ia berpikir masih ada tempat lain yang berkenan menerima baksos dari BIP. Uang baksos pun ditranfer oleh Arief Camra sebanyak Rp 150 juta setelah dipotong untuk kesejahteraan karyawan termasuk untuk para perawat yang merawat para lansia.
“Saya tidak masalah kalau dana sudah dikembalikan. Saya juga tidak masalah dananya di potong untuk kesejahteraan karyawan. Karena sesuai janji saya mensejahterakan mereka yang sudah berkorban banyak untuk kehidupan para lansia. Dana di kembalikan sekitar Rp 150 juta,” ujarnya.
Lebih lanjut Ali menjelaskan ditengah polemik pengembalian dana tersebut, dua truk berisi keperluan lansia senilai Rp 400 juta yang seharusnya akan dikirim ke Griya Lansia juga di tolak. Maka ia berinisiatif akan mengalihkan ke yayasan lain di Jogja.
Di tengah perjalanan Nurhadi staf Griya Lansia menyampaikan kepada dirinya bahwa para lansia sangat membutuhkan bantuan berupa barang seperti Pampers, susu dll. Akhirnya kedua truk berbalik arah menuju Malang. Dan semua barang tersebut diterima langsung oleh Nurhadi atas sepengetahuan Arief Camra.
Ali menegaskan bahwa sebelum melakukan klarifikasi ini, ia sudah menghubungi dan meminta ijin Nurhadi. Karena namun ia tidak ingin nantinya ada permasalahan di kemudian hari antara Nurhadi dan Arief Camra.
Diakui selama 2 tahun menjalani kan kegiatan sosial ini BIP tidak pernah ada masalah apapun. Namun pada kesempatan ini sekali lagi Alu menegaskan tidak punya niatan untuk memusuhi atau tidak suka pada Arief Camra.
Ali bahkan menyampaikan penghormatan kepada Arief Camra. Ia mengaku masih menganggap Arief sebagai sosok Guru yang memiliki pengalaman dalam mengelola lembaga sosial, khususnya Griya Lansia.
“Saya tetap menghormati Pak Arief. Saya bahkan siap datang kalau diundang. Saya akan mencium tangan. Saya merasa masih banyak yang bisa dipelajari dari beliau,” ujarnya.
Ali menegaskan, ia tidak akan menelepon meminta video dan unggahan yang beredar di berbagai platform media sosial diturunkan (take down). Ia percaya hati kecilnya baik. Ia berharap beliau melihat penjelasan ini dan semuanya bisa menjadi lebih baik.
Menurut Ali, konflik yang terjadi justru harus dipandang sebagai ujian yang dapat menjadi pembelajaran bagi semua pihak.
“Saya tahu BIP ini masih sangat muda usianya hampir 3 tahun. Meski selama ini tidak ada masalah, dengan adanya kasus menjadi pelajaran buat BIP ke depan agar lebih tertata lagi. Banyak yang harus kamu perbaiki,” ujar Ali.
Ia meminta masyarakat tidak terburu-buru memberikan penilaian negatif kepada Arief maupun BIP.
Diakhir konpres Ali sempat membacakan Surah Ali Imran ayat 134 yang berisi tentang keutamaan orang-orang yang gemar berinfak, mampu menahan amarah, dan memaafkan sesama.
Dimana ayat tersebut menjadi pegangan dan landasan bagi seluruh relawan BIP dalam menjalankan kegiatan sosial dalam menghadapi permasalahan yang sedang terjadi sehingga tidak mudah terprovokasi oleh situasi yang berkembang di kemudian hari.
Pada kesempatan ini Ali juga mengajak semua pihak untuk tetap berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan dan ia berharap polemik yang terjadi dapat segera berakhir.
Menurut Ali, konflik yang terjadi justru harus dipandang sebagai ujian yang dapat menjadi pembelajaran bagi semua pihak.
Ia meminta masyarakat tidak terburu-buru memberikan penilaian negatif kepada Arief maupun BIP.
“Bisa jadi ini adalah ujian untuk kami berdua agar setelah ini menjadi lebih baik,” ucapnya.
Akhiri Klarifikasi dengan Ayat Al-Qur’an
Menjelang akhir konferensi pers, Ali membacakan Surah Ali Imran ayat 134 yang berisi tentang keutamaan orang-orang yang gemar berinfak, mampu menahan amarah, dan memaafkan sesama.
Ia menjelaskan bahwa ayat tersebut menjadi pegangan bagi seluruh relawan BIP dalam menghadapi permasalahan yang sedang terjadi.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut harus menjadi landasan dalam menjalankan kegiatan sosial agar tidak mudah terprovokasi oleh situasi yang berkembang.
Ali kemudian mengajak semua pihak untuk tetap berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan dan berharap polemik yang terjadi dapat segera berakhir. (Dsy)


























